PeACe a LonG Day.....PeACe A LoNG Day....PeACe a LonG Day

Kamis, Desember 01, 2011

Siklus Hidup Sistem


TUGAS PENULISAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN 1
SIKLUS HIDUP SISTEM



Disusun oleh :
SYARIF HIDAYAT
NPM : 36110785
2DB10

Dosen : LELI SAFITRI


JURUSAN MANAJEMEN INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INFORMASI
2011

DAFTAR ISI

Daftar Isi………………………………………………….……………………………………  ii
Kata pengantar……………………………………………………………………………...  iv
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.        Latar belakang masalah.................................................................................. 1  
1.2.        Perumusan masalah………………………………………………………….. 1
1.3.        Tujuan penulisan…………………………………….……………………….... 1
BAB II. PEMBAHASAN
2.1.        Dasar perencanaan sistem informasi berbasis komputer....... 2
2.1.1.     Manfaat dan perencanaan proyek CBIS…........................................... 2
2.1.2.     Cara perencanaan alternatif...………………………………………......... 2
2.2.        Siklus hidup system………………................................................................... 3
2.2.1.     Fase perencanaan…….…………………………............................................. 4
2.2.2.     Fase analisi dan desain………………........................................................... 7
2.2.3.     Fase implementasi…………............................................................................. 7
2.2.4.     Fase operasi……………....…………………………………...………...……… 7           
2.3.        Prototyping…………………................................................................................ 8
BAB III. PENUTUP
3.1.        Kesimpulan………………………………………………………………...…...  11
3.2.        Saran………………………………………………………………………....…..... 11
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………...………............... 12 

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah menyampaikan rahmat serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas penulisan  tentang SIKLUS HIDUP SISTEM ini dengan baik.
Penulisan ini adalah salah satu persyaratan dalam penambahan nilai untuk mata kuliah Sistem Informasi Manajemen 1 jurusan manajemen informatika Universitas Gunadarma.
Melalui penulisan ini pula, dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Ibu Leli Safitri  selaku Dosen mata kuliah Sistem Informasi Manajemen 1 yang telah berkenan menerima penulis dan memberikan bimbingan serta pengarahan sehingga terwujudnya penulisan ini.
2.      Rekan-rekan 2DB10 yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam menyelesaikan penulisan ini.
Semoga Allah SWT membalas budi baik kepada semua pihak yang telah memberi bantuan baik moril maupun materil kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, penulis akan bersenang hati menerima segala saran dan kritik dari para pembaca demi kebaikan dan kesempurnaan tugas penulisan ini.
                   
Depok,   30  November  2011


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG MASALAH
Konsep siklus hidup cocok dengan segala sesuatu yang mempunyai awal, kematangan untuk beberapa waktu dan akhirnya mati. Konsep siklus hidup juga dapat diterapkan untuk CBIS dan dapat diterapkan dengan dua cara.
Pertama, siklus hidup dapat dipandang sebagai evolusi jangka panjang dari CBIS perusahaan. Banyak perusahaan besar yang menginstal komputernya yang pertama pada tiga puluh tahun yang lalu dan secara terus menerus telah memperbaiki sistem mereka. Mungkin perusahaan tersebut telah menggunakan beberapa generasi software dan hardware dan telah meningkatkan jumlah dan kekompleksan aplikasi mereka. Sekarang ini perusahaan yang mengimplementasikan komputer pertama mereka, mungkin mikro sedang memulai siklus hidup pengembangan jangka panjang yang sama.
Pandangan kedua mengenai siklus hidup adalah jauh lebih pendek, walaupun ia bisa saja mempunyai jangkauan beberapa tahun. Pandangan ini dapat diterapkan pada konsep siklus hidup untuk suatu proyek CBIS tertentu. Proyek tersebut mungkin adalah pengimplementasian CBIS pada perusahaan secara keseluruhan atau proyek tersebut adalah peningkatan subsistem yang telah diinstal.    

1.2. PERUMUSAN MASALAH
Pada bab ini, kita akan memberikan tekanan pada pembahasan yang kedua tersebut, yaitu pandangan jangka pendek mengenai siklus hidup CBIS dan melihat kemana proyek CBIS tersebut akhirnya ditujukan yaitu ke siklus pengembangan CBIS jangka panjang.

1.3. TUJUAN PENULISAN
·        Mengetahui bahwa kemajuan CBIS dicapai melalui dua jenis siklus hidup yang berbeda yaitu siklus jangka relatif pendek ketika proyek CBIS diimplementasikan dan siklus jangka yang lebih panjang ketika diperoleh kecanggihan dam penggunaan komputer.
·        Mengetahui bahwa proyek CBIS dapat dimulai untuk pencapaian tujuan dan untuk memecahkan masalah serta memahami bagaimana kriteria penampilan CBIS secara logis mengalir ke tujuan perusahaan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. DASAR PERENCANAAN SISTIM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER
Implementasi CBIS atau subsistem utama merupakan aktivitas yang berskala luas yang melibatkan orang lain dan fasilitas yang banyak, uang dan peralatan dalam jumlah besar dan waktu yang panjang. Proyek CBIS bisa membutuhkan sumber yang banyak seperti pengembangan produk baru atau pembangunan gedung baru dan ia harus direncanakan dengan baik pula.

2.1.1. MANFAAT DARI PERENCANAAN PROYEK CBIS
  1. Komite SIM dan tim proyek mengantisipasi bahwa perencanaan akan menghasilkan keuntungan atau manfaat berikut ini :Mendefinisikan lingkup proyek : Unit organisasional, aktivitas atau sistem mana yang dilibatkan? Mana yang tidak dilibatkan? Informasi mengenai hal ini bisa membantu estimasi awal untuk menentukan skala sumber yang dibutuhkan. 
  2. Mengetahui bidang masalah yang potensial : Perencanaan dapat mengetahui hal yang mungkin akan mengalami masalah sehingga ia dapat mencegahnya. 
  3. Mengatur urutan tugas : Banyak tugas terpisah yang akan diperlukan untuk mengimplementasi CBIS. Tugas atau kerja ini disusun dalam urutan logis berdasarkan pada prioritas informasi dan keperluan efisiensi. 
  4. Memberikan dasar pengontrolan : Sebelumnya harus ditetapkan tingkat penampilan tertentu dan metode pengukuran. Setiap tim proyek harus mendefinisikan apa yang perlu dikerjakan, siapa yang akan mengerjakan, dan kapan pekerjaan tersebut akan dilakukan. Team harus menyampaikan hal ini kepada komite SIM sehingga komite dapat melakukan pengontrolan seluruh proyek tersebut.

Manajemen menginventasikan waktu dalam perencanaan dengan mengharapkan bahwa inventasi tersebut akan terbayar kemudian dalam siklus hidup.

2.1.2. CARA PERENCANAAN ALTERNATIF
Ada dua cara dasar untuk melakukan proyek CBIS. Yang pertama adalah objective orientation (orientasi tujuan), disini perusahaan menggunakan tujuannya sebagai titik awal. Sedangkan yang satunya adalah problem orientation (orientasi masalah), disini perusahaan merancang CBIS untuk menangani masalah tertentu.
Bila perusahaan tidak mempunyai tujuan yang baik, maka tujuan tersebut harus didefinisikan dulu sebelum melangkah. Kemudian, perusahaan harus menentukan apakah ia telah mencapai tujuannya atau belum. Jika sudah, maka tak perlu mengubah CBIS lagi. Jika perusahaan tidak mencapai tujuannya maka ia harus memilih antara dua cara perencanaan tersebut. Pilihan tersebut tergantung pada sejauh mana CBIS dapat menangani masalah yang utama. Jika CBIS melakukan keseluruhan pekerjaannya dengan baik, maka sistem yang telah ada hanya perlu dimodifikasi agar dapat menangani masalah tertentu dengan lebih baik. Sebaliknya, jika CBIS mengalami kegagalan yang serius maka perusahaan perlu melakukan pendekatan baru dan harus melakukan orientasi tujuan.

2.2. SIKLUS HIDUP SISTEM
Kita dapat mendefinisikan siklus hidup sistem sebagai proses evolusi yang terjadi dalam pengimplementasian sistem atau subsistem informasi berdasarkan komputer. Istilah SLC biasanya juga digunakan, yaitu dari SLDC yang merupakan kepanjangan dari system development life cycle (siklus hidup pengembangan system).
Ada kesepakatan umum dari para ahli sistem komputer, yaitu bahwa siklus hidup sistem adalah deskripsi dari tugas implementasi yang akurat yang harus dilakukan. Mengenai jumlah langkah dan namanya belum ada kesepakatan. Setiap yang mempunyai kewenangan cenderung untuk mendeskripsikan proses tersebut dengan cara yang sedikit berbeda. Namun, setelah dilakukan inspeksi secara dekat terungkap bahwa semua deskripsi tersebut mengikuti pola umum yang sama. Pola tersebut didasarkan pada pendekatan sistem yaitu dengan memahami apa yang akan dilakukan, mempertimbangkan pemecahan alternatif, menentukan yang terbaik, mengimplementasikannya dan melakukan tindak lanjut.
Interpretasi kita mengenai siklus hidup sistem mempunyai empat fase, yaitu (1) perencanaan, (2) analisis dan desain, (3) pengimplementasian, dan (4) pengoperasian. Pada fase perencanaan yang merupakan tanggung jawab manajer, manajer mendefinisikan masalah yang akan dipecahkan atau tujuan yang akan dicapai, dan spesialis informasi memberikan dukungan kepadanya. Selama tiga proses berikutnya, melakukan pengontrolan atas proses yang dijalankan oleh spesialis informasi. Fase analisis dan desain adalah studi mengenai sistem yang dilakukan oleh analis sistem. Fase pengimplementasian melibatkan semua spesialis informasi yang menyusun sumber yang diperlukan. Yang terakhir, spesialis informasi terutama operator menjadikan sumber agar dapat digunakan oleh pemakai.
Interpretasi tradisional dari siklus hidup sistem yang merupakan sifat dari instalasi berdasarkan mainframe yang sebagian besar pekerjaannya dilakukan oleh spesialis informasi. Trend end-user computing mengaburkan  dan dalam beberapa kasus menghapus secara penuh garis pembagi antara manajer dan spesialis. Manajer menjalankan semua aktivitas ketika end-user computing diimplementasikan secara penuh. Proses siklus hidup yang urut juga sedang mengalami perubahan akibat dari dua pengaruh. Pertama, setiap pembuatan prototip menyebabkan langkah tertentu harus diulang secara interaktif. Kedua, alat CASE mengalami perubahan muatan kerjanya dari fase pengimplementasian ke fase perencanaan dan fase analisis dan desain.
2.2.1. FASE PERENCANAAN
Fase perencanaan siklus hidup sistem menunjukkan setiap langkah yang harus dilakukan dan mengidentifikasi tanggung jawab manajer dan spesialis informasi dalam hal ini adalah analisis sistem.
1.      Mengenali masalah
Kebutuhan proyek CBIS dapat diketahui oleh lingkungan perusahaan., eksekutif perusahaan, manajer tingkat bawah, non-manajer, dan staf pelayanan informasi perusahaan. Perorangan dan kelompok yang ada dalam lingkungan adalah yang pertama mengetahui kebutuhan untuk meningkatkan CBIS. Pelanggan, pemasok, pemerintah, masyarakat keuangan, dan pemegang saham mengingatkan adanya kelemahan dan kelebihan mengenai CBIS kepada orang yang berada di dalam perusahaan biasanya manajer puncak.
Proyek CBIS yang diprakarsai oleh eksekutif mempunyai dua karakteristik. Pertama, proyek tersebut cenderung mempunyai cakupan yang luas yang berlaku untuk seluruh organisasi. Kedua, proyek tersebut menghasilkan sistem yang berpengaruh terhadap penampilan jangka panjang perusahaan. Kebanyakan permintaan pelaksanaan proyek CBIS berasal dari manajer tingkat bawah. Karena sehari-harinya para manajer tingkat bawah ini berhubungan dengan sistem mereka, maka mereka dapat secara cepat mengetahui adanya kesulitan dan peluang yang ada.
Non-manajer seperti sekretaris dan pekerja pabrik lebih mengetahui sistem mereka daripada orang lain. Jika para pekerja ini tidak dapat menggunakan sistemnya seperti yang direncanakan dan mereka mencari peluang peningkatan maka mereka akan menjadi kekuatan dalam memprakarsai perubahan sistem.
Spesialis informasi jarang mengawali proyek CBIS ini sebab utamanya adalah bahwa spesialis informasi biasanya berada dibalik layar, sehingga tidak bisa mengetahui adanya gejala masalah. Dengan demikian orang lainlah yang mengetahui adanya masalah dan memintanya untuk membantunya.

2.      Mendefinisikan masalah
Bila manajer mengetahui bahwa ada masalah yang muncul, maka ia harus memahaminya dengan cukup baik agar dapat melakukan pemecahannya. Namun demikian, manajer tidak perlu mengumpulkan semua informasi pada point ini. Hal ini akan membutuhkan studi mengenai sistem secara menyeluruh. Manajer hanya perlu mengidentifikasi dimana masalah tersebut berada dan apa kesulitan umumnya. Jika manajer tidak ingin melakukan end-user computing maka ia meminta bantuan kepada spesialis informasi. Kita asumsikan bahwa manajer dan spesialis informasi bekerja secara bersama-sama.

3.      Menyusun tujuan sistem
Hubungan logis terjadi antara tujuan perusahaan dan penampilan CBIS yang diharapkan. Tujuan perusahaan menentukan tujuan yang harus dicapai oleh setiap bidang fungsional dan manajer yang berada pada bidang fungsional tersebut. Ternyata bahwa tujuan yang ditetapkan untuk manajer ini adalah untuk menentukan kebutuhan informasi. Akhirnya, kebutuhan informasi manajer menentukan kriteria penampilan CBIS yaitu standart penampilannya. Selanjutnya, dalam siklus hidup keperluan laporan harus dibuat secara lebih spesifik. Namun demikian, pada point ini kriteria hanya dinyatakan secara umum, misalnya, “Memberikan laporan pengeluaran biaya bulanan yang menerangkan perbandingan antara biaya pengeluaran sebenarnya dengan biaya pengeluaran yang dianggarkan untuk setiap unit operasi”. Selain itu, dibuat pula pernyataan yang menerangkan kriteria penampilan umum untuk setiap subsistem CBIS.

4.      Mengidentifikasi kendala sistem
CBIS baru akan beroperasi dengan banyak kendala. Beberapa kendala tersebut diakibatkan oleh lingkungan, seperti permintaan laporan pajak dari pemerintah dan permintaan dari pelanggan mengenai informasi rekening penagihan. Kendala lain berasal dari manajemen perusahaan seperti terbatasnya biaya untuk komputer dan terbatasnya waktu respon.
Sebaiknya kendala ini diidentifikasi sebelum pekerjaan CBIS benar-benar dimulai. Dengan cara ini, desain CBIS juga bisa diarahkan untuk mengatasi kendala tersebut.

5.      Melakukan studi kelayakan
Analis sistem mengambil informasi dari empat langkah yang pertama dan menggunakannya sebagai pedoman untuk melakukan studi kelayakan. Studi kelayakan adalah tinjauan singkat mengenai faktor utama utama yang mempengaruhi sistem, hal ini memungkinkan manajer untuk memecahkan masalah yang telah didefinisikan atau untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ia bukanlah studi yang berkala menyeluruh. Studi yang berkala menyeluruh ini akan dilakukan setelah kelayakan proyek telah diketahui. Ada lima dimensi kelayakan proyek : (1) Teknis, (2) Ekonomis, (3) Resmi, (4) Operasional, (5) Terjadwal.
Analis sistem mengumpulkan informasi yang diperlukan untk menjawab pertanyaan tersebut. Interview personal adalah cara yang paling tepat untuk mendapatkan informasi dari para pekerja. Dalam beberapa kasus, informasi dapat diperoleh dengan cara mencarinya dari record. Maksud dari semua ini adalah untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam waktu yang singkat dan biaya yang sedikit.

6.      Membuat proposal proyek studi
Analis sistem merekapulasi penemuan yang didapatkan sampai point ini dalam proposal proyek studi. Jika studi kelayakan menunjukkan bahwa proyek CBIS harus berlanjut, maka perlu dilakukan studi sistem secara menyeluruh. Studi sistem akan memberikan dasar yang lengkap untuk desain sistem baru, yaitu mengenai apa yang akan dilakukan dan bagaimana harus melakukannya. Studi sistem akan dilakukan oleh analisis atau team analisis dan akan memakan waktu beberapa minggu atau bulan. Oleh karenanya studi tersebut akan memakan biaya yang besar. Analis sistem membuat proposal proyek studi untuk memberitahu manajer agar bisa menetapkan dasar pengeluaran biaya.

7.      Menyetujui atau tidak menyetujui proyek studi
Komite SIM mempertimbangkan pro dan kontra dari proyek dan desain sistem yang diajukan dan melakukan salah satu dari tindakan. Untuk mempertimbangkan persetujuan proyek, ada dua hal pokok yang harus diperhatikan.
  • Apakah sistem yang diajukan akan memecah masalah yang telah diidentifikasi atau akan memungkinkan perusahaan untuk mencapai tujuan. 
  • Apakah proyek studi yang diajukan merupakan cara terbaik untuk menentukan desain CBIS yang diajukan.

Biasanya komite akan dapat menjawab hal atau pertanyaan yang pertama dengan lebih mudah dari pada pertanyaan yang kedua. Walaupun anggota komite adalah orang-orang yang memahami komputer dan informasi, mereka bisa saja tidak memahami siklus hidup system. Pada kasus ini, komite harus mendapatkan spesialis informasi yang diyakini dapat memberikan pendekatan atau cara studi yang terbaik.

8.      Menetapkan mekanisme pengontrolan
Sebelum studi dimulai komite SIM harus melakukan langkah untuk menetapkan kontrol atas proyek tersebut. Sementara tujuan CBIS adalah untuk mencukupi kebutuhan informasi untuk manajemen, tujuan proyek CBIS adalah untuk menghasilkan CBIS yang diinginkan baik dalam kendala biaya dan waktu. Pengontrolan proyek dilakukan agar dapat dipastikan bahwa biaya dan waktu memadai.
Pengontrolan proyek meliputi spesifikasi apa yang perlu dilakukan, siapa yang akan melakukannya, dan kapan pelaksanaannya.
Software manajemen proyek tertulis dapat digunakan untuk membantu manajer dalam mengontrol proyek. Ada lebih dari 230 paket yang kira-kira sama pembagiannya untuk digunakan oleh mikrokomputer dan mainframe. Beberapa dari paket tersebut hanya dapat menangani sejumlah aktivitas yang terbatas, yaitu sekitar 200 atau 250. Sedangkan yang lain dapat menangani ribuan aktivitas.

2.2.2. FASE ANALIS DAN DESAIN
Bila perencanaan telah dilakukan dan mekanisme pengontrolan telah ditetapkan, aktivitas siklus hidup dapat dilanjutkan ke analis dan desain.
v  Mengumpulkan proyek studi
v  Staf untuk proyek studi
v  Mendefinisikan keperluan informasi
v  Mendefinisikan kriteria penampilan sistem
v  Merancang subsistem secara lengkap
v  Mengidentifikasi konfigurasi peralatan alternatif
v  Mengevaluasi konfigurasi alternatif
v  Menentukan konfigurasi yang terbaik
v  Membuat proposal proyek pengimplementasian
v  Menyetujui atau tidak menyetujui proyek pengimplementasian
v  Melengkapi dokumen system

2.2.3. FASE IMPLEMENTASI
Pada point ini desain hanya berada pada kertas, ia merupakan model dari sistem yang direncanakan. Sekarang, perlu mengubah model tersebut menjadi model fisik. Implementasi adalah akuisisi dan integrasi dari sumber fisik yang menghasilkan sistem yang bekerja.
Sejumlah tugas yang terpisah secara praktis termasuk setiap orang dalam perusahaan melakukan usaha pengimplementasian, dengan cara :
v  Merencanakan implementasi
v  Mengumumkan proyek implementasi
v  Mengorganisir staf pelayanan informasi
v  Menentukan komputer
v  Membuat perpustakaan software
v  Membuat database
v  Mendidik peserta dan pemakai
v  Membuat fasilitas fisik
v  Mengganti dengan sistem baru
2.2.4. FASE OPERASI
Segera sesudah penggantian, yaitu jika sistem baru sudah terpasang maka dilakukanlah postimplementation review (tinjauan post-implementasi) untuk mengevaluasi sejauh mana sistem tersebut memenuhi kriteria penampilan. Tinjauan ini diulangi terus sepanjang kehidupan sistem tersebut. Secara ideal tinjauan ini sebaiknya dilakukan oleh pihak ketiga misalnya auditor EDP atau konsultan.
Selama manajer menggunakan sistem tersebut ia bisa melakukan modifikasi kecil untuk menjaga agar sistem tersebut tetap berjalan seperti adanya. Sebagai contoh, nilai pajak dalam sistem penggajian diperbaharui untuk merefleksikan perubahan dalam peraturan perpajakan. Aktivitas yang demikian itu disebut system maintenance (pemeliharaan system) dan hal ini akan banyak menyita waktunya staf pelayanan informasi.
Pada beberapa point, sistem tersebut akan memerlukan perbaikan atau bahkan penggantian. Bila hal ini terjadi, maka diulangilah siklus hidup melakukan peningkatan sistem atau sistem yang baru lagi.

2.3. PROTOTYPING
Prototip memberikan ide kepada pembangunan dan calon pemakai mengenai bagaimana sistem dalam bentuk lengkapnya nanti akan berfungsi. Proses pembuatan prototip disebut prototyping dan hal ini paling cocok diterapkan untuk situasi dimana pemakai tidak mengetahui apa yang ia inginkan. Dengan adanya prototip pemakai lebih dapat mengetahui kemungkinan yang ada dan dengan adanya pemahaman yang lebih baik ini ia dapat memicu spesifikasi dengan cepat.
Langkah prototyping. Salah satu cara pembuatan prototip terdiri atas enam langkah, antara lain :


  1. Mengidentifikasi kebutuhan pemakai : hal ini dapat dilakukan oleh analis sistem terutama dengan cara interview perorangan.  
  2. Mengembangkan prototip : Analis sistem dan programmer menggunakan alat untuk pembuatan prototip, misalnya 4GL, DBMS, spreadsheet elektronik dan bahasa permodelan.  
  3. Mengevaluasi prototip : Analis dan programmer memberitahu pemakai dalam menggunakan prototip dan memberi kesempatan pada pemakai untuk mengenal sistem ini.  
  4. Menentukan apakah prototip tersebut dapat diterima : pemakai memberi masukkan kepada analis dan programmer apakah prototip tersebut memuaskan atau tidak. Jika ya dilanjutkan langkah 6 dan jika tidak maka dilakukan langkah 5.  
  5. Merevisi prototip : Analis dan programmer mengubah prototip tersebut sesuai dengan saran dari pemakai. Prototip yang telah direvisi dikemukakan lagi kepada pemakai, dan diulangi lagi langkah ke 3 dan 4.  
  6. Menggunakan prototip atau menggantinya dengan sistem operasional : dalam situasi dimana prototip berisi semua elemen yang dikehendaki, maka prototip tersebut menjadi sistem operasional. Dalam situasi dimana prototip hanyalah merupakan shell dari sistem yang diperlukan yang tidak memenuhi elemen yang dikehendaki, maka prototip tersebut akan berfungsi sebagai blueprint dari sistem operasi.


Daya tarik prototyping. Pada tahun 1989, dua orang konsultan yaitu J.M Carey dan J.D Curry melakukan survey kepada 90 perusahaan dari berbagai jenis untuk mempelajari pelaksanaan prototyping mereka. Mereka menemukan enam daya tarik, seperti disebutkan dibawah ini (menurut tingkat frekuensinya) :
1.       Keterlibatan pemakai yang lebih baik
2.       Pendefinisian keperluan yang lebih baik
3.       Dapat pekerja yang lebih cepat
4.       Perancangan proses online
5.       Penentuan kelayakan proyek
6.       Pengujian teknologi dan alat yang baru
Dalam menjelaskan perbedaan antara prototyping dengan cara siklus hidup tradisional, banyak yang mengatakan kepada pemakai dengan kata seperti lihat, rasakan dan sentuh.

Kesulitan pelaksanaan prototyping. Careay dan Currey juga menemukan kesulitan dalam pelaksanaan cara prototyping, bardasarkan urutan rangkingnya kesulitan tersebut adalah sebagai berikut :
1.       Pelaksaan pengontrolan atas wilayah proyek
2.       Pengelolaan perubahan terhadap sistem
3.       Kurangnya pedoman yang baku
4.       Tidak cukupnya kontrol pengembangan
5.       Tidak cukupnya kontrol aplikasi
6.       Kurangnya dokumentasi
7.       Ketidakmampuan menggunakannya sebagai sistem operasional
8.       Tak ada daftar pekerjaan yang baku
9.       Penyimpangan arah end-user
Istilah cepat dan kotor seringkali digunakan kaitannya dengan prototyping. Nampaknya penggunannya akan diatur demikian jika sistem yang dihasilkan kurang pengontrolan dan dokumentasi. Namun demikian, penyimpangan tersebut agaknya lebih disebabkan oleh kurangnya disiplin daripada kelemahan yang dari prototyping. Orang yang melakukan prototyping yaitu spesialis informasi dan mungkin manajer yang bekerja sendiri dapat memberikan kontrol dan dokumentasi sebelum sistem dioperasikan. Disiplin seperti itu ditetapkan melalui kebijaksanaan IRM perusahaan.

Prototyping dan siklus hidup sistem. Beberapa ketidaksepakatan mengenai apakah prototyping dapat digabungkan dengan siklus hidup sistem muncul. Beberapa yang mempunyai kewenangan yakin bahwa siklus hidup telah sepenuhnya diganti. Menurut pendapat kita, prototyping dapat mengganti siklus hidup jangka pendek dari subsistem dalam CBIS, seperti DSS dan expert system, namun ia tidak mengganti siklus hidup untuk CBIS secara keseluruhan. Aktivitas prototyping dilakukan pada waktu analisis dan disain, dan mungkin sedikit meluas pad perencanaan dan implementasi.

 BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN


  • Konsep siklus hidup sistem telah diterapkan dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Siklus jangka panjang akan menghasilkan peningkatan kecanggihan dalam penggunaan komputer. Hal ini akan dapat direalisasikan bila perusahaan menerapkannya dan meningkatkan investasi untuknya. Siklus hidup jangka pendek mencakup proyek CBIS yang terpisah. Proyek tersebut dapat melibatkan seluruh CBIS atau subsistem. Siklus hidup jangka pendek terdiri dari empat fase : perencanaan, analisis dan desain, implementasi, dan operasi.

SARAN


  • Bila kebutuhan informasi telah ditentukan secara mendetail, maka selanjutnya dimungkinkan menetapkan kriteria penampilan tertentu. Kemudian subsistem dirancang, dimana bersamaan dengan itu pendokumentasian mengalami evolusi dari umum ke khusus. Disain yang spesifik memungkinkan pemilihan beberapa konfigurasi peralatan dapat dievaluasi secara mendetail. Analisis bekerjasama dengan manajer untuk memperbaiki konfigurasi sedikit demi sedikit, sehingga konfigurasi yang terbaik bisa cocok dengan sistem secara keseluruhan.  




 DAFTAR PUSTAKA

Sistem Informasi Manajemen, Seri Diktat Kuliah, E.S. Margianti & D. Suryadi H.S.  cetakan kedua, Mei 1995






           
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar