PeACe a LonG Day.....PeACe A LoNG Day....PeACe a LonG Day

Senin, Desember 13, 2010

MUSIK dan KITA


MUSiK
MUSIK dan KITA

S
ekilas kita mendengar kata musik pasti yang terkesan dalam benak kita adalah lagu. Ya….Lagu, yang secara tak sadar dalam setiap hari dalam kehidupan kita – mungkin setiap menit malah – selalu mendengarnya, sudah seperti oksigen yang kita hirup.

Pada masa purbakala (baca : jaman batu) irama musik hanya terbentuk dari suara manusia dan peralatan yang terbuat dari batu kemudian dipukul-pukulkan sehingga menimbulkan harmoni ansamle. Biasanya berfungsi sebagai pengiring upacara adat keagamaan mereka.

Lalu seiring dengan perkembangan jaman, alat musik pun makin berkembang. Manusia mulai mengenal alat musik tiup, bahkan petik. Namun fungsinya masih sebagai pengiring kegiatan sosial manusia, hanya lebih berkembang lagi karena manusia mulai mengenal berbagai tarian dan nyanyian yang bernada. Dan umumnya tarian dan nyanyian pasti memerlukan iringan musik, kan ?
Intinya, dari jaman Rikiplik – atau istilah lainnya yang sering orang tua kita bilang, jaman kuda gigit batu – hingga sekarang, manusia tidak akan pernah lepas dari musik.

Ada seorang teman saya, dia ini bisa dibilang penikmat segala jenis musik ( tapi bukan musisi ). Karena banyaknya lagu yang dia kenal dan hamper selalu hafal, dia nyaris selalu bisa menemukan soundtrack dalam setiap moodnya ! Bayangin, gimana besarnya pengaruh musik merasuki jiwanya ! itu baru satu orang yang saya kenal. Mungkin di dunia ini ada ribuan bahkan jutaan orang seperti dia.

L
agu sendiri adalah bagian dari musik. Setiap ansamble alat musik yang menghasilkan harmoni, bisa dibilang telah membentuk sebuah lagu. Tak usah kita repot-repot kita bahas sejauh itu deh ! Kalau kita mendengar panggilan ibadah umat Islam ( adzan ) di berbagai mesjid, itu pun bisa dibilang sebuah lagu, karena sang muadzin (orang yang melakukan adzan) melafalkannya dengan nada-nada. Dan kita semua tahu bahwa nada-nada adalah bagian dari lagu.
Bahkan musik pun memiliki pengaruh yang cukup besar dalam sebuah batalyon tentara. Dalam hal ini irama musik berfungsi sebagai penyemangat mereka saat hendak berperang. Bicara soal perang, dari masa kecil saya sudah mendengar banyak berita peperangan. Perang inilah, perang itulah ! sampai saya muak mendengarnya. Dan kebanyakan dari kita pasti begitu.

Memang terlalu naif saat kita bersikap skeptis duluan bila berbicara tentang perang. Kita harus mengerti lebih dalam lagi sebab musabab dari perang itu sendiri. Karena sebuah perang biasanya timbul dari sebuah pertikaian yang terjadi antara dua pihak atau lebih, yang tak bisa dijalankan secara damai dan musyawarah.

Dihubungkan dengan pembahasan awal kita tentang musik, sepertinya agak melenceng kalau kita Sekarang membicarakan perang. Namun kalau didalami lagi, ternyata tidak juga, mengingat betapa besarnya pengaruh musik dalam tatanan kehidupan manusia, termasuk pengaruhnya terhadap sebuah batalyon perang sebagai penyemangat. Banyak contoh lagu yang telah dibuat sebagai penyemangat para serdadu dalam perang, misalnya salah satu lagu nasional kita sendiri, Maju Tak Gentar.

Manusia diciptakan memiliki sifat peka terhadap seni. Dan sebagian dari mereka diberikan kelebihan untuk menciptakan karya seni yang berasal dari curahan hatinya yang terdalam. Merekalah para seniman.

Saat berbicara soal perang, para seniman musik pun takkan tinggal diam menuangkan perasaannya tentang perang itu kedalam karyanya. Ada yang bersifat mendukung perang itu karena ia merasa ikut terjajah haknya dalam perang tersebut. Biasanya pada kasus ini sang seniman adalah warga negara salah satu pihak yang sedang berperang. namun ada pula (dan pada umumnya) mereka menentang perang, karena menurut mereka perang bukanlah sebuah solusi yang tepat sama sekali. Perang tak lain hanyalah menimbulkan kesengsaraan dan berbagai kerugian, baik jiwa maupun materi.

War ! What is a good for ? Absolutely nothing !

Itu kurang lebih cuplikan dari salah satu lagu Tom Jones yang membuktikan sikap kontra terhadap perang. Dari dalam negeri pernah digelar “Konser Anti Perang” oleh Komunitas Anti Perang di Pekan Raya Jakarta, sekitar tahun 2003 silam, yang menampilkan Iwan Fals, Leo Kristi dan lain-lain. Saat itu mereka mengungkapkan penolakannya terhadap perang, terutama terhadap rencana penyerangan AS terhadap Irak. Slank sendiri pernah menggelar konsep “Stop War!” di Plenary Hall Jakarta Convention Center, masih di tahun 2003 juga.
Banyak lagi konser dan rekaman yang dibuat oleh para seniman dan musisi baik dalam maupun luar negeri, dalam misinya menentang perang dan menyumbang para korban perang. Semua penjelasan panjang lebar diatas membuktikan sekali bahwa musik sangat berpengaruh dalam tatanan sosial kehidupan kita.

 Maha pencipta di atas sana memang hebat ! Bayangkan dunia tanpa MUSIK ! Betapa sepi pastinya…HAMPA.
By : Pepeng NAIF ( Koran SLANK )



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar